MASYARAKAT TERDAMPAK TAMBANG GALIAN  DI KUNJANG KEDIRI AKAN LAKUKAN AKSI DEMO BESAR BESARAN

Kediri – TFBI

Melanjutkan pemberitaan sebelumnya tentang Tambang Galian CV. Adhi Djojo di Kunjang Kediri Meresahkan.

 

Masyarakat terdampak akibat adanya tambang galian C CV. Adhi Djojo, terutama petani penggarap areal  Rolak 70 di Desa Juwet dan Pare Lor Kecamatan Kunjang serta Sumberejo Kecamatan Purwoasri kabupaten Kediri mengancam akan mengadakan demo besar-besaran untuk mengusir penambang pasir di kawasan tersebut.

 

Petani terdampak mengaku sangat resah dengan aktifitas tambang galian yang ngotot beroperasi meskipun sudah dinyatakan ditutup oleh warga dan  pihak Kepolisian.

 

Keresahan para petani makin bertambah setelah beredar informasi bahwa areal Rolak 70 seluas sekitar 58 hektar akan dialih fungsikan dari lahan pertanian menjadi Embung.

 

Menurut Agustianto, pendamping petani Rolak 70 mengatakan, saat ini petani sudah merasakan dampak negatif penambangan pasir karena lahan di sekitar galian tidak bisa ditanami lagi.

 

“Apalagi saat ini muncul kabar bahwa kawasan Rolak 70 akan dijadikan embung. Warga setempat yang sebelumnya mengandalkan dari hasil pertanian menjadi was-was karena sumber ekonomi mereka terancam,” ujar Agustianto kepada TFBI, Rabu (25/10/2017).

Ditambahkan Agustianto, aktifitas galian C di Rolak 70 sempat berhenti selama sehari setelah ada aksi unjuk rasa warga beberapa waktu lalu. Namun, saat ini aktifitas penambangan pasir buka kembali bahkan dalam skala lebih besar.

 

“Kami pernah mengadukan ke Pemerintah Daerah termasuk ke DPRD Kabupaten Kediri untuk menindak galian C di Rolak 70. Namun kelihatannya hal tersebut diabaikan dan dilakukan pembiaran,” ujar Agustianto gusar.

 

Warga meminta kepada Pemerintah Kabupaten Kediri dan juga Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar secepatnya mengambil tindakan tegas dan berkoordinasi untuk menghentikan aktifitas dan mencabut izin pengelolaan tambang galian C tersebut.

 

“Evaluasi kembali proses terbitnya IUP OP karena tidak ada koordinasi dengan pihak Desa setempat sehingga legalitasnya sangat diragukan,” imbuh Agustianto.

 

Jika tidak ada langkah nyata dari pihak terkait, maka warga mengancam akan melakukan aksi demo besar-besaran dan akan melakukan penutupan secara paksa,” pungkasnya.

 

Ditempat terpisah salah seorang pekerja tambang yang tidak mau disebutkan namanya  mengatakan, ” bahwa setiap hari galian bisa mengeluarkan antara 80 sampai 100 rid tanah uruk untuk dijual, sedangkan pasir tidak pasti, kadang-kadang 50 sampai 70 rid. Sedang harga tanah uruk di patok 150 ribu per truk dump, sedangkan pasir di patok 750 ribu per truk dump, untuk waktu operasinya mulai jam pagi sampai jam 24.00 setiap hari, ” ungkapnya. (Rs’08)