BERBEKAL SURAT JALAN DARI DESA-DESA,2 ORANG INI DI CIDUK POLISI

 

Malang – TFBI

Malang Nasib  yang menimpa dua warga Legoksono, Kecamatan Tirtoyudo ini, patut dijadikan pelajaran berharga bagi semua orang.Lantaran diduga tidak memiliki dokumen resmi kepemilikan kayu, keduanya dicokok oleh Kepolisian Resort (Polres Malang) beserta petugas Perhutani saat akan menjual kayu sengon yang diangkut truk.

 

Kedua tersangka berinisial SA (45) pemilik kayu sengon dan SE (50) supir truk di aman kan di jalan raya Sumbermanggis, Kecamatan Tirtoyudo saat mengangkut kayu yang akan dijualnya ke Lumajang.

 

Kronologis penangkapan kedua warga Legoksono ini terjadi saat anggota Polres Malang bersama petugas Perhutani melakukan patroli di wilayah Tirtoyudo.

 

Melihat adanya truk Mitsubishi FE 745 4X2 warna kuning dengan Napol N-8484-UJ tahun 2011 yang memuat kayu sengon gelondongan berukuran panjang 130 centimeter dengan diameter antara 10 sampai 25 centimeter ini, petugas langsung memberhentikannya.

 

“Setelah diperiksa ternyata kedua warga ini tidak memiliki dokumen resmi hanya menunjukkan surat jalan dari desa. Karena curiga petugas langsung melakukan pengecekan ke sumber awal lokasi kayu,” terang Kasubbag Humas Polres Malang Ipda Ahmad Taufik dalam press release di Mapolres Malang, Senin (14/08).

 

Dari hasil pengecekan petugas ternyata kayu sengon sebanyak 22 sampai 25 pohon yang telah dipotong ini berasal dari lahan milik Perhutani wilayah RPH Sumberkembang Desa Purwodadi Petak 60C.

 

“Karena tidak bisa menunjukkan dokumen resmi kayu, kami amankan dua tersangka ilegal loging ini di Mapolres Malang,”ujar Ahmad Taufik.

 

Dikesempatan yang sama, SA mengatakan bahwa kayu yang akan dijualnya adalah miliknya yang ditanam di lahan Perhutani sekitar 3-4 tahun lalu. Saat menebang pohon yang ditanam dan dirawatnya itu juga tidak ada masalah. Bahkan Desa memberikan surat jalan kepadanya.

 

“Saya tidak mencuri, ini pohon sengon yang saya tanam dan pelihara sendiri. Memang dilahan perhutani saya tanamnya karena ada perjanjian. Setiap tahun saya bayar,” katanya yang juga menyampaikan niatnya setelah sengonnya terjual ini untuk keperluan kuliah anaknya di Perguruan Tinggi dan SMA.

 

Senada dengan SE yang mengatakan bahwa surat jalan dari desa ada tapi saat ini tidak tahu keberadaannya.

 

“Enggak tahu hilang di mana,”ujarnya yang tidak mengetahui juga mengenai kewajiban adanya dokumen hasil kayu hutan yang harus dipenuhinya.

 

Lepas dari apa yang telah disampaikan dua tersangka, kepolisian terus melakukan penyidikan lebih dalam atas dugaan ilegal loging sesuai Pasal 83 ayat 1 huruf b Undang-undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2003 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan yang menyatakan ‘orang perseorangan yang dengan sengaja mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil hutan kayu yang tidak dilengkapi secara bersama surat keterangan sahnya hasil hutan’ dengan ancaman hukuman minimal satu tahun dan maksimal 5 tahun penjara. (win)