HARGA CABAI RAWIT TERJUN BEBAS, PETANI CABAI JUNGKIR BALIK

KEDIRI-TFBI.

Rasa cabai yang pedas tidak sepedas harganya. Hal tersebut sangat berdampak sekali pada nasip para petani kita.

 

 

Sebagai contoh petani cabai di kediri yang saat ini lagi kebingungan karena saat mau panen cabai malah harga cabai di pasaran turun tak terkendali.

 

Menurut salah satu petani cabe di desa Cengkok kecamatan Tarokan Kediri Mohammad Kasno atau yang akrap di sapa Kang Kasno (55) saat di mintai konfirmasi di balai desa Cengkok Tarokan Kediri hari selasa (29/8/2017) mengatakan, bahwa harga cabai cimpleng (cabe rawit, red) dari petani rata-rata Rp 9000 / kg, sedangkan harga eceran di pasaran Rp 14.000/kg, sampai Rp 15.000/kg, kalau dihitung dari biaya produksi dan lamanya tanam tidak nyucuk, petani cabai jadi Mumet mas (Pusing, red).

 

kalau harga dasarnya dari petani pada kisaran Rp 15.000, per kg maka bisa menutup ongkos biaya produksi.

 

Masih menurut Kang Kasno yang juga sebagai Kades Cengkok menjelaskan, ” saya juga menanam cabai seluas 1 Bau ( 500 RU atau 7000 M2) untuk awal tanam membutuhkan biaya keseluruhan 5jt – an dan mulai produksi pada tiga bulan berikutnya, jadi selama waktu tiga bulan pertama merupakan masa pemeliharaan, baru  pada awal bulan ke empat sudah mulai bisa memanen sampai berakhir pada bulan ke lima, jadi tanaman cabai efektip bisa dipanen selama dua bulan saja”.

 

Kang Kasno juga mengatakan  bahwa selain pada komoditas cabai rawit yang jatuh hal serupa juga terjadi pada komoditas kedelai, dimana harga dasar dari petani sekarang hanya Rp 6500, per kg.

 

Perlu di ketahui bahwa jenis kedelai yang biasa ditanam warga di kediri jenis kedelai 41.

 

Dengan adanya hal tersebut, maka petani berharap pada pemerintah agar memikirkan nasip petani kecil karena setiap mau panen apa saja harga selalu bergejolak sehingga petani tidak dapat merasakan hasil panennya, begitu juga dengan harga pupuk dan obat yang setiap tahun selaku naik 10 persen sampai 20 persen, ” Kalau semua komoditas harganya tidak bisa di kontrol terus petani harus menanam apa ” imbuhnya” (Rds”08)