KEPALA SEKOLAH SMA NEGERI 6 KOTA KEDIRI DI DEMO RATUSAN SISWANYA

Kediri – TFBI

Dengan berteriak-teriak berorasi di sekolahnya, ratusan pelajar SMAN 6 Kota Kediri turun ke jalan. Mereka menuntut kepala sekolah (Kasek) untuk menurunkan pembayaran uang SPP. Para pelajar SMA Negeri 6 tersebut berkumpul mulai pukul 07.00 WIB, di halaman sekolah, Jalan Ngasinan-Rejomulyo Kota Kediri senin, 23/10/2017.

 

Dalam mimbar bebas tersebut para siswa membawa poster serta membentangkan tulisan dan  berteriak agar pihak sekolah segera menurunkan pembayaran SPP.

 

Perlu di jelaskan bahwa aksi ini sudah dilakukan para pelajar sebanyak tiga kali. Isi poster di antaranya, “Tolak Kepala Sekolah SMAN 6 Menyalahgunakan Jabatan”,”Sekolah Termahal”.

 

“Tolak kepala sekolah serta turunkan SPP sekarang juga,” teriak salah satu pelajar kelas 12 di lokasi, Senin (23/10/2017).

 

Dia mengaku aksi  ketiga kalinya ini dilakukan karena tingginya pembayaran SPP hingga dianggap kurang terbukanya pihak sekolah terhadap pelajar dan orang tuanya.

 

“Ini ketiga kalinya semua siswa melakukan unjuk rasa, dengan tuntutan yang sama. Iuran SPP yang tinggi dan kurang terbukanya rincian iuran SPP,” jelas Pramudia kepada awak media.

 

 

SPP yang dimaksud, jelas dia, sejak tahun 2014, pihak sekolah telah menarik iuran SPP mulai sebesar Rp 80 Ribu kepada pelajar. Dan terus naik hingga Rp 200 ribu. Meski peruntukannya pembangunan sekolah, namun hasilnya tidak sesuai dengan penjelasan dan tidak transparan.

 

“SPP sudah naik 3 kali, dulu 80 Ribu, sekarang 200 Ribu. Katanya untuk bangun aula, kenyataannya aula pertemuan kecil, pembebasan lahan yang katanya akan jadi aula eh..ternyata jadinya tempat parkir tanpa atap, “tambahnya”

Sementara itu Kepala Sekolah SMAN 6 Kota Kediri, Abdul Basith menjelaskan bahwa pihaknya telah memetakan terkait apa yang dibutuhkan sekolah. Terutama sarana dan prasarana yang dibutuhkan baik sekolah atau pelajar melalui rapat dengan orang tua wali murid.

 

Menurutnya, tidak ada paksaan dan kewajiban dalam membayar terkait SPP. Bagi orang tua yang keberatan dan kurang mampu bisa mengajukan keringanan pembayaran.

 

“Tidak ada paksaan dan kewajiban. Bagi orang tua yang keberatan dan kurang mampu bisa mengajukan keberatan dan pasti kami kabulkan. Tidak ada paksaan,” jelas Basith di hadapan pelajar

 

Terkait uang SPP sebesar Rp 200 Ribu, jelas Basith, sesuai dengan rapat pleno antara orang tua siswa dan sekolah. “Kalau tuntutan utamanya adalah turunkan uang SPP, kami akan sgera menggelar rapat pleno,” tegasnya.

 

Tak puas dengan jawaban kepala sekolah, ratusan pelajar memilih mogok belajar dan pulang usai ditemui pihak sekolah. Mereka menganggap pihak sekolah hanya janji-janji belaka.

 

“Kami capek dan merasa dipermainkan, hanya janji-janji saja. Kami ingin kepastian bukan janji. Ini ketiga kalinya aksi kami dan jawabannya sama,” kata Pramudia.

 

Bagi dia, aksi mogok belajar ini bukan tujuan utama para siswa yang melakukan unjuk rasa. Bahkan dirinya tidak menganjurkan mogok belajar dan pulang. Dia dan teman-temannya mempersilahkan yang ingin ikut belajar atau ikut demo untuk memilih sesuai hati nuraninya.(Rs’08)