PINTU PERLINTASAN KERETA API, KEMBALI MEMAKAN KORBAN

Kota Tangerang – TFBI

Salah satu perlintasan kereta api,tepatnya di jln puskesmas kel.tanah tinggi.kec tangerang kota, kembali memakan korban. Kali ini korban nya adalah Heru(25thn),dan supendi (27thn), keduanya warga gojlong rt04/rw04 tanah tinggi, dan  kondisi kedua korban sangat mengenaskan,bagian badan terpotong-potong dan kepala hancur (12/10/2017) sekitar pukul 05 : 00 pagi hari.

 

Menurut keterangan salah seorang warga usda idianto selaku RW setempat menjelaskan,” kejadiannya pas lgi nabun ( bahasa Betawi arti nongkrong) saat itu saya keluar rumah, terlihat mereka berdua(korban) terlihat sedang duduk-duduk,sambil bakar-bakar sampah di sekitar area perlintasan,”  tuturnya.

 

” saat kereta pertama melintas yang menuju jakarta dari tangerang, dan langsung menyambar kedua korban tersebut,memang di tempat ini sudah sering terjadi kecelakaan oleh kereta api,di karenakan tidak adanya pintu perlintasan kereta api, “ungkap Usda.

 

lebih lanjut dikatakan, padahal sudah pernah di usulkan oleh warga kepada pengembang PT KAI,untuk di buatkan pintu perlintasan di tempat ini,berhubung jalur ini sangat ramai di gunakan oleh masyarakat, namun sampai saat ini tidak pernah di buat,sehingga sudah menelan beberapa korban.

 

selanjutnya tidak beberapa lama aparat kepolisian sektor benteng kota,langsung datang dan PMI dinas kota tangerang serta membawa satu unit kendaraan jenazah,kemudian pihak kepolisian mengidintifikasi kedua korban,dan mengamankan area kecelakaan untuk olah TKP.

 

ketika awak media menanyakan kepada AKP sarbini SH selaku pemimpin olah TKP tersebut, AKP Sarbini, SH menjelaskan, ” saat ini korban akan kita bawa ke rumah sakit untuk divisium,guna di buat  laporan selanjutnya, ” ucap nya.

 

Namun sangat di sayangkan,ketika saat di TKP media mau menemui pihak PT KAI,tidak ada pihak PT KAI yang bisa di minta penjelasan tentang kejadian tersebut, hingga berita ini di muat,belum ada penjelasan yang pasti dari pihak PT KAI, untuk penjelasan terkait korban yang meninggal. (Sabar Manahan)