KANTOR PEMKAB KEDIRI DI GERUDUK DAN DI KEPUNG OLEH RATUSAN PENGGALI TRADISIONAL KEDIRI

Peserta aksi demo dari penggali manual mengepung pemkab kediri

Kediri -TFBI

Dengan menaiki puluhan kendaraan dump truk bak terbuka
Ratusan penggali pasir manual yang berada di sekitar kecamatan kepung, Puncu, Plosoklaten, Kandangan menggelar aksi demo didepan kantor Pemkab Kediri, Kamis (28/9/2017).

Kedatangan peserta demo tersebut untuk menolak kehadiran penambang besar yang menggunakan alat berat (begho) untuk melakukan penambangan secara besar-besaran  yang mengakibatkan para penggali pasir manual yang menggunakan alat songkro tidak dapat tempat.

Korlap aksi Agustianto memberi penjelasan pada awak media

Ketua Asosiasi penambang Pasir manual Kabupaten Kediri Agustianto mengatakan, para penggali pasir manual semakin terpinggirkan, karena lahan yang mengandung galian C berupa pasir sudah dikuasi penambang besar. Semua areal tambang seperti aliran lahar gunung kelud, kali Kontho dan sekitarnya semua sudah di kapling oleh broker penambang besar dengan menggunakan alat berat.
Menurut Agustianto para penambang besar tersebut jumlahnya mencapai 49 dan telah mendapat rekomendasi dari Pemkab Kediri.

Lebih lanjut Agustianto mengatakan, kondisi saat ini para penggali pasir manual semakin terdesak karena semuanya sudah dikuasai total oleh pengusaha.” Kalau kondisi ini kita diamkan, penggali manual tidak bisa masuk dan tidak bisa makan,” lanjutnya.

Suasana pertemuan berjalan alot

Dalam aksi demo tersebut, para pengunjuk rasa sempat menampilkan theatrikal dadakan, dengan memerankan kondisi para penggali yang miskin yang hanya mampu makan nasi dengan sayur daun pepaya.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, pihak Pemkab mempersilahkan perwakilan dan Korlapnya diajak berunding di ruang Grahadi. Tampak hadir Asisten satu Bupati Joko Susilo, Kepala DPM-PTSP Indra Taruna, Kadis Perhubungan Suyono, PU dan Pengairan Edy Yuwono, Kabiro hukum Sukadi dan di saksikan oleh Kabag.Ops. Polres Kediri Kompol Irfan dan Kasat Intelkam.

Sempat terjadi blunder dan tarik ulur dalam perundingan tersebut karena pihak Pemda tidak segera memberi kepastian, mengingat peserta demo diluar sudah lama menunggu dan berpanas panasan.
Dalam pertemuan tersebut Joko Susilo sempat minta pendapat dan masukan ke Pihak Kepolisian Kediri. Kasat Intelkam dan Kabag ops menjelaskan, bahwa polri disini hanya bertindak sebagai pengamanan demi lancarnya aksi demo.
Karena pihak Pemda tidak segera memberikan jalan keluar, maka Danang Prambandaru minta pada Pemkab agar para penggali tradisional di perbolehkan menggali galian C sambil nunggu regulasi terbaru dari pemerintah.

Setelah ada kesepakatan tersebut maka kedua belah pihak dengan juru bicara dikuasakan pada Agustianto yang disaksikan dari kepolisian Kediri memberikan penjelasan pada para penggali manual, bahwa penggali manual di perbolehkan menggali di daerah sungai konto, aliran lahar. Mendengar kabar tersebut peserta demo merasa puas dan membubarkan diri dengan tertib.(Rds’08)