KETUA DPRD BERIKRAR JUNJUNG TINGGI PANCASILA DAN NKRI

Beltim – TFBI

Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) dipusatkan di halaman Kantor Bupati Beltim, Senin (2/10).

Bupati Beltim, Yuslih Ihza menjadi inspektur upacara, sedangkan Ketua DPRD Beltim, Tom Haryono Harun menjadi pembaca ikrar.

Upacara dihadiri oleh Forkominda Kabupaten Beltim, pejabat Pemkab Beltim, anggota TNI AD, Polres Beltim, pegawai di lingkup Pemkab Beltim, Organisasi Kepemudaan, serta siswa SMA, SMP dan SD.

Dalam Ikrarnya Ketua DPRD menyatakan bahwa sejak diproklamasikan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 pada kenyataannya telah banyak terjadi rongrongan baik dari dalam negeri maupun luar negeri terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Rongrongan tersebut dimungkinkan oleh karena kelengahan, kekurangwaspadaan Bangsa Indonesia terhadap kegiatan yang berupaya menumbangkan Pancasila sebagai ideologi Negara.

“Maka di hadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila, kami membulatkan tekad untuk tetap mempertahankan dan mengamalkan nila-nilai Pancasila sebagai sumber kekuatan menggalang kebersamaan untuk memperjuangkan, menegakkan kebenaran dan keadilan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Tom.

Ikrar itu merupakan janji setia terhadap Pancasila dan NKRI. Ikrar dibuat oleh DPR RI dan ditandatangani Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah.

Seusai upacara, Bupati berpesan agar seluruh elemen masyarakat Beltim kompak dan mewaspadai akan bahaya pemecahan NKRI dan bahaya laten komunis. Dengan tegas Yuslih menekankan kesetiaan Kabupaten Beltim terhadap Pancasila.

“Kita harus bersatu padu, setia mendukung Dasar Negara Pancasila dan NKRI. Kita juga harus mewaspadai gerakan-gerakan yang ingin mengganti Dasar Negara Pancasila dengan dasar yang lain,” tegas Yuslih.

Yuslih pun mengaku terkenang akan peristiwa 52 tahun lalu, tepatnya di tahun 1965. Pada waktu itu ia mengkisahkan, banyak orang-orang Manggar yang ikut dalam anak organisasi PKI ‘diciduk’ oleh aparat kala itu.

“Ramai yang dijemput paksan, dibawa ke Pegarun, daerah di sekitar Sijuk. Cuman saya kurang tau pasti apa yang dilakukan terhadap orang-orang itu,” ungkap Yuslih.

Saat itu Yuslih yang masih tinggal di daerah Sekep (Desa Lalang-red) Manggar menuturkan, suasana di Manggar sangat mencekam pasca adanya Gerakan 30 September PKI. Banyak orang-orang yang ketakutan dan menghilang.

“Semua orang yang ikut dalam organisasi ‘underground’ atau organisasi di bawah PKI ditangkapi. Bahkan banyak pegawai PT Timah yang diduga ikut diberhentikan,” bebernya.

Yuslih saat itu berusia kira-kira 13 tahun dan duduk di bangku SD. Almarhum Kakeknya, Guru Agama Islam pun sebelumnya sempat ingin diculik dari PKI.

Untuk itu, Yuslih mengajak masyarakat agar dapat menjadikan sejarah masa lalu sebagai pelajaran bahwa PKI tidak pantas hidup di bumi pertiwi.

“Kita bisa saja memaafkan, tapi kita jangan sampai melupakan,” ucapnya.

Tidak Ada Gerakan PKI di Kabupaten Beltim

Komandan Rayon Militer (Danramil) 41402 Manggar, Mayor Inf. Tri Joyo menjamin Kabupaten Beltim bersih dari gerakan organisasi terlarang khususnya yang berpaham komunis. Meski begitu, ia menekankan agar masyarakat diminta tetap waspada.

“Alhamdulilah sampai saat ini belum ada. Tapi kita jangan terlena, harus tetap waspada,” kata Tri sesuai Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Halaman Kantor Bupati Beltim, Senin (10/2).

 

Tri pun menyatakan tidak pernah anggotanya di lapangan menemukan adanya simpatisan ataupun atribut yang berhubungan dengan PKI. Namun ia menghimbau agar jika di kemudian hari ditemukan adanya hal itu, masyarakat diminta untuk melapor.(red)